Sabtu, 16 Juli 2011

Soe Hok Gie


 Soe Hok Gie
Soe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.
Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta.Sejak masih sekolah, Soe Hok Gie dan Soe Hok Djin sudah sering mengunjungi perpustakaan umum dan beberapa taman bacaan di pinggir-pinggir jalan di Jakarta. Menurut seseorang peneliti, sejak masih Sekolah Dasar (SD), Soe Hok Gie bahkan sudah membaca karya-karya sastra yang serius, seperti karya Pramoedya Ananta Toer. Mungkin karena Ayahnya juga seorang penulis,sehingga tak heran jika dia begitu dekat dengan sastra.
Sesudah lulus SD, kakak beradik itu memilih sekolah yang berbeda, Hok Djin (Arief Budiman) memilih masuk Kanisius, sementara Soe Hok Gie memilih sekolah di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Strada di daerah Gambir. Konon, ketika duduk di bangku ini, ia mendapatkan salinan kumpulan cerpen Pramoedya: “Cerita dari Blora” —bukankah cerpen Pram termasuk langka pada saat itu?
Pada waktu kelas dua di sekolah menangah ini, prestasi Soe Hok Gie buruk. Bahkan ia diharuskan untuk mengulang. Tapi apa reaksi Soe Hok Gie? Ia tidak mau mengulang, ia merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya, ia lebih memilih pindah sekolah dari pada harus duduk lebih lama di bangku sekolah. Sebuah sekolah Kristen Protestan mengizinkan ia masuk ke kelas tiga, tanpa mengulang.
Selepas dari SMP, ia berhasil masuk ke Sekolah Menengan Atas (SMA) Kanisius jurusan sastra. Sedang kakaknya, Hok Djin, juga melanjutkan di sekolah yang sama, tetapi lain jurusan, yakni ilmu alam.
Selama di SMA inilah minat Soe Hok Gie pada sastra makin mendalam, dan sekaligus dia mulai tertarik pada ilmu sejarah. Selain itu, kesadaran berpolitiknya mulai bangkit. Dari sinilah, awal pencatatan perjalanannya yang menarik itu; tulisan yang tajam dan penuh kritik.

Ada hal baik yang diukurnya selama menempuh pendidikan di SMA, Soe Hok Gie dan sang kakak berhasil lulus dengan nilai tinggi. Kemuidan kakak beradik ini melanjutkan ke Universitas Indonesia. Soe Hok Gie memilih ke fakultas sastra jurusan sejarah , sedangkan Hok Djin masuk ke fakultas psikologi.
Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.
Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.
Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.
Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya: “Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”
8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Hok Gie meninggal di gunung Semeru tahun 1969 tepat sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 akibat menghirup asap beracun di gunung tersebut. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.
24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.
Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”
“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.
Kata Kata Soe Hok Gie
-          Pertanyaan pertama yang harus kita jawab adalah: Who am I? Saya telah menjawab bahwa saya adalah seorang intelektual yang tidak mengejar kuasa tapi seorang yang ingin mencanangkan kebenaran. Dan saya bersedia menghadapi ketidak-populeran, karena ada suatu yang lebih besar: kebenaran.
-          Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah.
-          Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.
-          Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.
-          Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.
-          Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi "manusia-manusia yang biasa". Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.


-          Saya ingin melihat mahasiswa-mahasiswa, jika sekiranya ia mengambil keputusan yang mempunyai arti politis, walau bagaimana kecilnya, selalu didasarkan atas prinsip-prinsip yang dewasa. Mereka yang berani menyatakan benar sebagai kebenaran, dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas dasar agama, ormas, atau golongan apapun.
-          Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan golongan, ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik saya dari sekolah menengah. Mereka akan jadi korban-korban baru untuk ditipu oleh tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.
-          Sejarah dunia adalah sejarah pemerasan. Apakah tanpa pemerasan sejarah tidak ada? Apakah tanpa kesedihan, tanpa pengkhianatan, sejarah tidak akan lahir?
-          Bagiku perjuangan harus tetap ada. Usaha penghapusan terhadap kedegilan, terhadap pengkhianatan, terhadap segala-gala yang non humanis…
-          Kita seolah-olah merayakan demokrasi, tetapi memotong lidah orang-orang yang berani menyatakan pendapat mereka yang merugikan pemerintah.
-          Bagi saya KEBENARAN biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan. Dan kita tak usah merasa malu dengan kekurangan-kekurangan kita.
-          Potonglah kaki tangan seseorang lalu masukkan di tempat 2 x 3 meter dan berilah kebebasan padanya. Inilah kemerdekaan pers di Indonesia.
-          To be a human is to be destroyed.
-          Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menentang angin.
-          Saya putuskan bahwa saya akan demonstrasi. Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan.
-          I’m not an idealist anymore, I’m a bitter realist.
-          Saya kira saya tak bisa lagi menangis karena sedih. Hanya kemarahan yang membuat saya keluar air mata.
-          Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan.
-          Saya tak tahu mengapa, Saya merasa agak melankolik malam ini. Saya melihat lampu-lampu kerucut dan arus lalu lintas jakarta dengan warna-warna baru. Seolah-olah semuanya diterjemahkan dalam satu kombinasi wajah kemanusiaan. Semuanya terasa mesra tapi kosong. Seolah-olah saya merasa diri saya yang lepas dan bayangan-bayangan yang ada menjadi puitis sekali di jalan-jalan. Perasaan sayang yang amat kuat menguasai saya. Saya ingin memberikan sesuatu rasa cinta pada manusia, pada anjing-anjing di jalanan, pada semua-muanya.
-          Tak ada lagi rasa benci pada siapapun. Agama apapun, ras apapun dan bangsa apapun. Dan melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.

Kamis, 28 April 2011

Si Jenius Yang Rakus Makanan (Sahuri Mulia Hakim)

Namanya Sahuri Mulia Hakim.salah satu Mahasiswa Universitas Paramadina Jakarta Jurusan Komunikasi Angkatan 2009.(Kampus yang dikenal sebagai tempat kuliahnya para artis dan anak pengusaha di bawah pimpinan Bapak Anies Bawesdan)

Putra Pinrang kelahiran 20 Juli 1990 ini merupakan sosok jenius dan pintar.Bahkan di usia 5 Tahun dia sudah mampu membaca koran.Kepintarnya tidak lepas dari didikan sang Ayah (Drs.Abd.Hakim) yang merupakan guru Matematika SMAN 1 Pinrang.Sejak dibangku sekolah Sahuri tdk pernah lepas dari peringkat 3 besar dan selalu masuk kelas unggulan di tiap jenjang pendidikan.Alumni SMAN 1 Pinrang Angkatan 2008 merupakan mantan ketua KIR (Karya Ilmiah Remaja),salah satu organisasi ekstrakurikuler di sekolah yang di masyarakat Pinrang lebih dikenal dengan SMANSA merupakan organisasi tempat berkumpulnya orang pintar,cerdas dan jenius.Setamat SMA penyuka club Manchester United ini sempat kuliah di Universitas Hasanuddin Fakultas MIPA jurusan Statistik sebelum ia mendapat beasiswa kuliah di Universitas Paramadina.


Dalam keseharian pria yang Pemalu ini dikenal sebagai manusia berperut karet.Julukan itu tidak lepas dari kebiasaannya yang suka makan bahkan sepiring nasi tidak cukup buat dia,sehingga teman-temannya memberi nama baru yaitu Bongkeng (sejenis katak besar yang suka makan).

Rabu, 27 April 2011

Tipisnya Antara Hidup dan Kematian


Rasa capek menyelimuti ragaku pada suatu siang-menjelang sore. Aku harus menepati janji seorang kawan yang ingin bertemu denganku. Bismillah, aku pun bangkit dan bergegas pergi dengan mengendarai sepeda motor. Aku berusaha melawan rasa malasku dengan langsung mengerjakan apa yang harus kekerjakan siang itu. Just do it, itulah saran yang sering kubaca manakala rasa malas menyelimuti kalbu.

Di sepanjang jalan rasa kantuk mulai menyerang. Aku tahan sekuat daya dan berusaha mengusir rasa kantukku jauh-jauh. Rupanya rasa kantuk itu tidak mau pergi, selalu berusaha menyelinap dirongga-rongga kesadaranku. Zzzz…, rasa kantuk itu sukses mengelabuhiku. Tatkala kubuka mata, tiba-tiba ada mobil dihadapanku, aku segera menekan tuas rem sepeda motor dan Cii..it, suara rem yang mulai aus kanvasnya pun berbunyi, hatiku berdegup kencang. Whuu..aku membuang panik hatiku, rasa syukur pun muncul. Untung aku segera tersadar dan tidak menabrak mobil di depanku.

Perjalanan pun kulanjutkan. Beberapa menit berselang, rasa kantuk yang sempat hilang itu kini muncul lagi, di tengah-tengah kemacetan ibu kota yang sangat padat. Rasa kantukku benar-benar pantang menyerah merasuki ambang kesadaranku. Di tengah kemacetan, aku terlelap beberapa detik, hingga akhirnya suara klakson mobil belakangku menyadarkan kalau aku menghalangi mobil yang mau lewat. Aku segera menjalankan sepeda motor dan kulihat pengendara mobil itu kumat-kamit melampiskan rasa kesal. Ya, aku seharusnya tidur saja di peraduan bukan di atas sepeda motor. Begitu kali pikirnya..

Perjalanan tinggal beberapa menit saja kurasa. Jalan-jalan yang tadinya macet, kini sudah mulai lancar. Aku pun bisa melaju dengan mulus. Namun tidak tahu kenapa rasa kantuk mulai menyelimuti kembali. Justru di tengah kemulusan jalan, rasa kantukku makin menjadi-jadi. Aku segera berhitung untuk berhenti atau tidak. Ya, aku putuskan berhenti jika menemui sebuah masjid di samping jalan. Mataku melihat kiri kanan memperhatikan keberadaan masjid sambil menahan daun mata yang kian meredup pasrah.

“Daar!!!” motorku terjatuh menabrak batu besar di pinggir jalan. Motorku terpelanting dan aku terkapar tanpa sadar beberapa saat. Saat ku sadar ada beberapa orang menghampiriku dan menanyakan kondisiku. Alhamdulillah, Aku hanya lecet-lecet di kaki. Motorku hanya pecah pipa knalpotnya, motor bengkok sedikit, dan pecah kaca spionnya. Orang-orang yang mengerumuniku aku persilahkan bubar karena aku tidak apa-apa. Beruntung ada bengkel dekat tempat kejadian. Tertatih-tatih aku menuju ke sana, mohon tempat untuk istirahat dan minta agar motor saya diperbaiki seperlunya.

***

Aku bersyukur berulang kali dalam hati. Allah masih memberikan keselamatan padaku. Alangkah indahnya nikmat hidup-Mu ya Allah. Dengan kejadian itu Allah memberi pelajaran bagiku bahwa kematian itu bisa datang kapan saja. Batas antara hidup dan kematian teramat tipis. Barangkali lebih tipis dari lapisan yang memisahkan air dan minyak tanah, atau lapisan yang memisahkan arus panas dan arus dingin di samudera nan luas.

Terbayang jika kematian itu jadi datang, mungkin isteri dan anak-anakku akan merasa menjadi orang yang paling malang di dunia ini. Kehilangan orang yang paling dicintai, kehilangan orang yang menjadi tumpuan harapan, dan kehilangan penyemangat hidup dan pemberi kasih sayang yang menjadi penyubur benih-benih kebaikan. Aku pun mawas diri ternyata bekal-bekal yang kupersiapkan pun belum cukup. Dosa-dosaku masih menggunung dan banyak kewajiban yang belum kutunaikan.

Tidak ada kepastian di dunia ini kecuali kematian yang senantiasa mengintai dan menjemput pemiliknya. Fragmen kehidupan tersebut mengingatkanku akan nikmat kehidupan dan amal apa apa yang telah kuabdikan dalam rangka mensyukuri nikmat itu. Apakah aku selalu memberikan setiap detik hidupku sesuai haknya? Astaghfirullah, ampuni aku jika banyak berleha-leha dengan alasan beristirahat. Ampuni aku jika aku terlarut dalam ghibah dan berenang dalam genangan darah saudara-saudaraku. Ampuni aku jika harta bendaku datang lewat jalan yang syubhat, dan ampuni aku jika banyak terbuai oleh angan-angan yang menipuku.
Ya Allah ampuni aku…

Mulai kini, aku bayangkan betapa pendeknya umur manusia, banyaknya kesibukan yang harus dikerjakan, penyesalan yang dalam akibat segala kekurangan tatkala ajal menjelang, dan penyesalan setelah semuanya berlalu. Kubayangkan di pelupuk mata dan relung hatiku pahala dari orang-orang yang sempurna, sementara aku sendiri sangat kekurangan. Kubayangkan pahala orang-orang yang bekerja keras, sedangkan aku selalu saja bermalas-malasan.

Al-Jauzi memberi nasehat janganlah membiarkan jiwa kosong dari nasehat-nasehat yang Anda dengar dan jauhilah pikiran-pikiran busuk yang selalu membisiki Anda. Sesungguhnya nafsu laksana kuda yang liar, jika Anda pegang kendalinya, maka Anda dijamin tak akan terlempar olehnya. Demi Allah, jangan membuang percuma umur Anda dan jangan kotori jiwa Anda. Lindungilah diri Anda segera, sebelum Anda menjadi tak terlindungi.

Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. (QS 26: 87-89)
Waallahu’alam.