Sang Wanita: "Aku sudah sering dipeluk cowo lain"
Pria dengan hangatnya menjawab: "Dan aku adalah pria yang akan memelukmu dengan kasih"
Sang Wanita: "U R not my FIRST kiss"
Pria dengan senyumannya: " And U R my First Kiss "
Sang Wanita: "Beberapa cowo pernah menjamah tubuhku"
Pria dengan sabarnya mengatakan: "Yang inginku jamah adalah hatimu, rasamu"
Sang Wanita: "Pernah ada cowo yang melihatku naked (tanpa busana)"
Pria itu menatapnya: "Dan aku melihatmu begitu polos, suci bersih tak bernoda"
Sang Wanita: "Aku pernah petting dengan mantanku"
Pria itu memeluknya dengan sabar: "Dan aku tahu, kau tak kan seperti itu lagi"
Sang Wanita menangis, terenyuh, dan berkata:"Aku gakkan pernah pantas untukmu!! aku udah ga perawan!!"
Pria itu, menatapnya dalam, memeluknya, tersenyum dan berkata:"Aku bukan mencintai keperawananmu, yang aku cintai adalah dirimu, sepenuhnya,..."
Minggu, 02 Januari 2011
Rabu, 29 Desember 2010
DAFTAR ORANG GILA di PINRANG
Label:
All About Pinrang
DAFTAR ORANG GILA DI PINRANG
Dari tahun 1980-an sampai sekarang
![]() |
| LARANNU |
- LARANNU = La Rennu tidak pernah menganggu orang lain, cuma orangnya jorok karena sering berak dan kencing di celana tapi ada satu kelebihan La Rennu dia bisa membaca surat kabar dan pandai berbahasa Inggris karena konon orangnya adalah mantan tentara tetapi karena dimasa mudanya dia sering berbuat jahat pada orang lain selama masih aktif jadi tentara sehingga ada orang yang menguna-gunainya sehingga menjadi orang hidup.
- ANDI MUDE = Dia musuh bebuyutan La Rennu , Andi Mude sering memalak La Rennu jika ia memiliki uang dari hasil belas kasihan orang lain, karena Andi Mude ini termasuk jahil karena sering menganggu cewek-cewek SMP dan SMA yang melintas didepannya, kadang Andi Mude ini langsung memeluk perempuan montok yang dilihatnya, jadi bagi cewek-cewek Pinrang hati-hati saja dengan Andi Mude
- AMBO PANCA = Dia sering meminta uang ditengah jalan dan menganggu pengguna jalan karena ia duduk ditengah jalan sambil meminta uang receh, kalau dikasih kacang atau makanan ia marah-marah. Ia meninggal ditabrak BUS PIPOSS dijalan Poros Pinrang-Makassar
- ANTO BELENG-BELENG = Orangnya idiot dan suka minta uang kalau ada hajatan sering dikerjain ama anak-anak dan orang Dewasa, ia mati di racun orang yang nggak suka ama dia
- LA GELO = Ia orang gila tetapi suka mencuri radio atau pakaian kemudian ia jual untuk makan
- LA MUSLIMIN = Ia orang gila yang penampilannya compang-camping dia hanya memakai sarung sobek-sobek dan kelihatan alat kelaminnya, ia tidak suka pakai baju walaupun dikasih ama orang
- ATONGNGE = Cita-citanya jadi petinju tapi tidak direstui oleh orang tuanya akhirnya menjadi gila pada saat duduk dibangku SMP, setiap hari ia seolah-olah jadi petinju dipinggir jalan dengan mengambil kuda-kuda gaya petinju. Dan sering minta rokok, kalau dikasih rokok sebatang kadang dia ambil 2 batang. Ia jarang menganggu orang justru dia sering dijahilin orang
- LA KADA = Dia juga jahil sering mengejar gadis SMP atau SMA untuk dipeluk
- AHONG = Dia orang China yang rada-rada gila, kadang dia ngomong sendiri dan berjalan cepet-cepet
- LENDING = Dia tidak gila tetapi bodoh-bodoh, dulu tenaganya sering dipakai oleh warga untuk mengambil air disumur kalau ada perkawinan di Pinrang, dia cukup rajin jika disuruh dan Lending senang jika dijodoh-jodohkan dengan gadis perawan, kalau mau suruh dia ambil air cukup bilang "Lending salamnya itu cewek yang berbaju merah", tetapi dia sangat marah jika dibilangin "LENDING CILAKA" so pasti kamu bakal dikejarnya
- LAEMANG BUCCU = Dia pengamen di Pinrang dan sangat marah kalau dibilangin Laemang Buccu karena ada benjolan dihidungnya, dia senang ngamen kalau ada panas matahari katanya rejekinya banyak
- PAK SAPA = Dia dulu orang jenius dan pintar saking pintarnya otaknya nggak sanggup lagi berpikir hingga dia jadi gila, dia selalu naik sepeda onthel keliling kota Pinrang tahun 1980-an, sepedanya diberi aksesoris bendera merah putih dan ia memakai baju veteran, mirip dengan pejuang kemerdekaan 1945
LASINRANG "BAKKA LOLONA SAWITTO"
Label:
Pinrang Bangga DenganNya
PETTA LASINRANG
"BAKKA LOLONA SAWITTO"
"BAKKA LOLONA SAWITTO"
Sekitar tahun 1856, keluarga raja dan
pembesar kerajaan Sawitto, diliputi suasana bahagia atas lahirnya putra
La Tamma yaitu La Sinrang. Kemudian dikenal dengan nama Petta Lolo La
Sinrang. Putra La Tamma Addatuang Sawitto ini, dilahirkan di Dolangeng
sebuah kota kecil yang terletak kira-kira 17 km sebelah selatan kota
Pinrang. Karena ibunya bernama I Raima (Keturunan rakyat biasa) berasal
dari Dolangeng. Sejak lahirnya La Sinrang memang memiliki keistimewaan
dimana dadanya ditumbuhi buluh dengan arah berlawanan yaitu arah keatas
ke atas (bulu sussang).
Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan daripamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.
Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang
Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.
Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.
La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri. Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.
La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro dari hasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.
Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya
La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.
Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.
Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”
Dalam perjalanan hidupnya, La Sinrang banyak mendapat bimbingan dan pendidikan daripamannya (saudara I Raima), yaitu orang yang mempunyai pengaruh dan disegani serta dikenal sebagai ahli piker kerajaan. Sehingga, La Sinrang menjadi seorang pemuda yang cukup berwibawa dan jujur. Hal ini merupakan suatu cirri bahwa putra Addatuang sawitto ini, adalah seorang calon pemimpin yang baik.
Diwaktu kecil La Sinrang gemar permaianan rakyat seperti dalam bahasa bugis mallogo, maggasing, massaung dan lain-lain. Namun, kegemaran utamanya yang berlanjut sampai usia menanjak dewasa yaitu “ Massaung “. Menyabung ayam. Dari kegemaran ini, La Sinrang selalu menggunakan “ Manu “ bakka “ (ayam yang bulunya berwarna putih berbintik-bintik merah padabagian dada melingkar kebelakang), ayam jenis ini jarang dimiliki orang
Kegemaran menyabung ayam dengan “ manu bakka “ tersiar keluar daerah, sehingga La Sinrang dikenal dengan julukan “ Bakka Lolona Sawitto “ juga dapat diartikan “ Pemuda berani dari Sawitto . Julukan ini semakin popular disaat La Sinrang mengadakan perlawanan terhadap belanda.
Juga kegemaran La Sinrang di usia remaja/dewasa adalah permainan “Pajjoge” yaitu tari-tarian dari asal Bone, sehingga ketika Pajjoge dari Pammana (Wajo) mengadakan pertunjukan di Sawitto maka La Sinrang semakin tertarik dengan Permian tersebut.
La sinrang ke Pammana, dimana setelah tinggal di Pammana dia memperlihatkan gerak-gerik yang menarik perhatian orang banyak, utamanya Datu Pammana sendiri. Datu Pammana La Gabambong ( La Tanrisampe) juga merangkap Pilla Wajo tertarik untuk menanyakan asal-usul keturunannya.
La Sinrang pun dididik dan diterima Datu Pammana menjadi pemberani, terutama dalam hal menghadapi peperangan. Setelah itu, La Sinrang kembali ke daerah asalnya yaitu Sawitto, saat itu La Sinrang mempunyai dua orang putra yakni La Koro dan La Mappanganro dari hasil perkawinan dengan Indo Jamarro dan Indo Intang.
Tiba di Sawitto diajaknya kerajaan Suppa, Alitta, binanga Karaeng, Ruba’E, Madallo, Cempa, JampuE, dll kerajaan kecil disekitar Sawitto untuk berperang, dan apabila kerajaan tersebut tidak bersedia, berarti bahwa kerajaan itu berada dibawah kekuasaan Sawitto. Dengan demikian, dalam waktu singkat terkenallah La Sinrang keseluruh pelosok, baik keberanian, kewibaan, maupun kepemimpinannya
La Sinrang selama berada di Sawitto semakin nakal, akhirnya diasingkan ke Bone, baru setahun di Bone, terpaksa menyingkir ke Wajo karena membunuh salah seorang pegawai istana di Bone yaitu Pakkalawing Epu’na Arungpone.
Selama di Wajo ia mendapat didikan dari La Jalanti Putra Arung Matawo Wajo yaitu La Koro Arung Padali yang bergelar Batara Wajo. La Janlanti diangkat menjadi komandan Pasukan Wajo di Tempe dengan pangkat Jenderal.
Setelah serangan Belanda terhadap kerajaan sawitto semakin hebat, maka La Sinrang dipanggil pulang oleh ayahnya, dan diangkat menjadi panglima perang. Dalam kepemimpinannya sebagai panglima perang kerjaan Sawitto, senjata yang dipergunakan adalah tombak dan keris. Tombak bentuknya besar menyerupai dayung diberi nama “ La Salaga ‘ sedang kerisnya diberi nama “ JalloE”
Atas jasa perjuangannya,Lasinrang dianuragerahkan tanda bintang Mahaputera Utama yang diberikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Langganan:
Postingan (Atom)

